Selasa, 30 Agustus 2011

ESTETIKA AGAMA & INFORMASI



Estetika Agama

Dalam Sachari (1989: 55) disebutkan bahwa dimensi estetika terbagi menjadi 5 kategori, sebagai berikut:

1. Estetika Murni, yaitu terdiri dari ungkapan estetik dan kesadaran estetik.

2. Estetika Terapan, yaitu terdiri dari unsur karya seni dan unsur desain.

3. Estetika Massa, yaitu terdiri dari orientasi selera dan orientasi gaya hidup.

4. Estetika Agama, yaitu unsur kesempurnaan ibadat dan unsur harapan surga.

5. Estetika Alam, yaitu fenomena yang menggetarkan dan realitas yang menakjubkan

Dimensi estetika yang keempat disebutkan tentang estetika agama. Estetika ini menurut Sachari merupakan unsur kesempurnaan ibadat dan harapan surga. Menurut persepsi saya, yang dimaksud Sachari adalah bahwa sesuatu yang disebut keindahan dalam agama adalah ketika umatnya melaksanakan ibadah dengan sempurna untuk mencapai janji imbalan surga. Saat berada dalam keadaan keimanan yang tertinggi itulah yang disebut dalam agama sebagai sesuatu yang indah. Tiap-tiap agama memiliki aturan-aturan dalam kitab sucinya masing-masing, dan keindahan diukur melalui hal ini. Meski demikian, pada dasarnya setiap agama sebenarnya memiliki satu inti ajaran yang sama, yaitu sama-sama mengajarkan kebajikan dan menghindarkan kejelekan. Untuk hal ini, saya setuju dengan pendapat Sachari bahwa ketika tingkat keimanan seseorang dalam kondisi yang tinggi, maka hal tersebut patut disebut indah.

Dari pengertian keindahan tersebut, mungkin dapat kita tarik garis yang sama dengan teori keindahan subyektif yang dikemukakan Kant (Anwar, 1980: 46). Teori yang mengemukakan bahwa keindahan sesuatu adalah bersifat subyektif atau tergantung pada sifat sesuatu tersebut. Jadi, keindahan bukan berasal dari murni obyek tersebut, melainkan pada sifat yang dimiliki obyek tersebut. Obyek yang dimaksud dalam estetika agama adalah umat, dan sifat dari umat dapat diukur dari perilaku umat tersebut. Logikanya, setiap agama mengajarkan kebajikan, maka saat keimanan seorang umat berada pada titik puncaknya otomatis perilakunya selalu memancarkan kebajikan.

Ada satu topik lagi mengenai estetika dalam agama yang akan kita bahas. Karena sudut pandang pembahasan essay kali ini adalah pendapat saya pribadi tentang astetika agama dengan tinjauan tambahan dari pendapat-pendapat yang telah ada, maka kali ini merupakan tinjauan yang murni dari apa yang saya pikirkan. Pendapat Sachari diatas tentang estetika agama tidak menyinggung mengenai karya seni dalam agama. Padahal apabila beliau juga menyebutkan bahwa karya seni juga termasuk bidang lingkup estetika, maka tidak seharusnya karya seni dalam agama diacuhkan atau mungkin disama ratakan. Kita tahu sendiri bahwa tiap agama juga menempatkan karya seni sebagai bidang keilmuannya. Artinya, hampir setiap agama tidak pernah mengacuhkan ilmu kesenian. Saya akan memberikan 3 contoh bahwa karya seni selalu menjadi unsur dalam agama, dan terdapat perbedaan dalam ketiganya.

Dalam kegiatan penyembahan yang dilakukan dalam agama Budha, selalu diwajibkan untuk membuat karya patung dari Sidharta Gautama ketika telah menjadi Budha. Patung tersebut dibuat sebagus mungkin, besar, dengan hiasan-hiasan yang indah. Di Jawa, pada beberapa candi peninggalan kerajaan Budha juga dihiasi dengan ukir-ukiran relief yang mengisahkan tentang perjalanan Sidharta Gautama semasa hidupnya. Karya-karya ini merupakan karya seni yang indah dan tidak mungkin dilupakan begitu saja. Dalam agama Kristen juga dikenal karya-karya seni yang begitu indahnya. Lukisan-lukisan baik yang dilukis di tembok gereja maupun yang dibingkai, melukiskan Yesus Kristus, Bunda Maria, atau malaikat-malaikat. Karya patung Yesus dan Bunda Maria yang diletakkan dalam gereja. Kemudian kesenian lukisan kaca warna-warni di jendela gereja (saya lupa namanya).

Dalam agama Islam juga dikenal kaligrafi (ayat-ayat suci yang dilukis) dan ukir-ukiran dalam tembok atau pilar masjid. Mungkin kesemuanya itu merupakan kesenian yang secara tidak langsung mengakar pada agama melalui tempat dimana agama tersebut pertama kali turun atau berkembang. Tetapi hal tersebut kini sudah bias, artinya orang sudah tidak berpikir secara historis geografis dan kulturis lagi, melainkan kesenian tersebut sudah menjadi ciri. Bahkan agama tersebut juga memiliki aturan sendiri tentang karya seni. Karena saya muslim, mungkin saya akan memberi contoh tentang bagaimana agama Islam mengatur mengenai sebuah karya seni. Dalam agama Islam, diperbolehkan seni kaligrafi, seni musik Islami, atau ukir-ukiran. Tetapi semua itu ada batasannya. Yaitu tidak diperbolehkan membuat lukisan, patung atau ukiran yang menyerupai bentuk manusia atau binatang. Kemudian musik yang dianjurkan hanyalah musik yang memuji kebesaran Tuhan atau musik yang mengajarkan tentang kebaikan, selain hal tersebut tidak dianjurkan. Di sini dapat kita lihat bagaimana karya seni sendiri masih bisa dikelompokkan lagi melalui sudut pandang agama. Jadi, estetika dalam agama menurut saya sendiri bisa dikelompokkan menjadi keindahan sifat (subyektif), dan keindahan karya seni keagamaan, seperti patung, ukir-ukiran, kaligrafi dan sebagainya.

Estetika Informasi

Sachari (1989: 70) menyebutkan mengenai gelombang estetis baru yaitu estetika informasi. Jika jaman dahulu media untuk menikmati obyek estetis sangatlah terbatas, maka sekarang media obyek estetis tersebut telah dikembangkan oleh media informasi. Media saat ini yang paling populer contohnya adalah televisi, radio, fotografi, majalah, surat kabar, komputer, film, video, dan lain sebagainya. Komposisi-komposisi yang estetis dari belahan lain penjuru dunia dapat kita nikmati dalam sekejab, praktis dan ekonomis, sehingga dapat memperluas persepsi kita akan konsep keindahan secara global. Pada akhirnya ia akan menjadi unsur yang dapat mempengaruhi pola tingkah laku dalam pengambilan keputusan estetik dalam masyarakat luas.

Pernyataan dari Sachari di atas menurut saya kurang tepat, karena estetika informasi yang dimaksud adalah mengenai estetika yang terdapat pada media penyampaian informasi dan bukan pada informasi itu sendiri. Jadi mungkin Sachari hanyalah kurang tepat dalam menyebutkan nama estetika itu sendiri. Estetika Media Informasi mungkin saya rasa lebih tepat, karena estetika atau keindahan yang dimaksudkan adalah pada medianya.

Referensi:

Sachari, Agus, 1989, Estetika Terapan, NOVA, Bandung.

Anwar L.Ph., Wadjiz, 1980, Filsafat Estetika, Nur Cahaya, Yogyakarta.

1 komentar:

  1. mohon maaf sebelumya,mengenai pendapat sachari tentang estetika informasi sudah benar dan penamaan estetika sudah tepat karena yang di maksud sachari adalah esttikanya terletak informasinya bukan medianya. scara umum media itu hanyan saluran untuk menyampaikan informasi.. jadi kalau mau bahas lebih lanjut panjang sekali. ini bukti bahwa sachari mengatakan kalau estetika terletak pada informasinya "Komposisi-komposisi yang estetis dari belahan lain penjuru dunia dapat kita nikmati dalam sekejab, praktis dan ekonomis, sehingga dapat memperluas persepsi kita akan konsep keindahan secara global" mohon di pahami pak

    BalasHapus