Sabtu, 24 September 2011

PROSES PEMBUATAN FILM





Pembuatan film yang baik adalah pembuatan film yang dilakukan melalui tahapan-tahapan yang sistematis, terencana, dan akurat. Hal ini dimaksudkan agar hasil akhir penggarapan sebuah film yang diharapkan dapat tercapai.

M. Bayu Widagdo (2004:5) membagi proses pembuatan film menjadi 3 bagian utama, yaitu pertama tahap pra produksi, kedua tahap produksi, dan yang terakhir merupakan tahap pasca produksi. Penjabaran lebih lanjutnya adalah sebagai berikut:

1. PRA PRODUKSI
Pra produksi merupakan tahap awal dari pembuatan film dimana segala persiapan-persiapan sebelum merekam gambar untuk film dilakukan. Secara garis besar, tahapan-tahapan tersebut adalah:
a. Mengolah ide cerita
Sebuah film tentunya pada awalnya memiliki ide cerita yang masih berupa alur pokok cerita secara garis besar. Ide cerita yang masih awal ini diolah agar menjadi sebuah skenario.
b. Skenario awal
Skenario awal tersebut kemudian didiskusikan kembali terutama oleh 3 orang dengan jabatan yang paling utama, produser, sutradara, dan penulis naskah. Pembicaraan ini didasarkan pertimbangan-pertimbangan menyeluruh mengenai konsep film.
c. Menyusun kru produksi
Setelah konsep film sudah tersusun dengan matang, maka tahapan selanjutnya adalah menyusun kru produksi berdasarkan konsep produksi film.
d. Melengkapi formulir produksi
Setelah mendapatkan kru yang sesuai, diadakan rapat produksi untuk melengkapi formulir produksi serta pedoman produksi secara lengkap.
e. Casting pemeran
Casting pemeran adalah tahapan dimana dilakukan pencarian pemeran yang paling sesuai berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
f. Reading dan rehearsal talent
Talent adalah orang yang disepakati sebagai pemeran setelah melalui tahapan casting. Reading adalah tahapan dimana talent dituntut untuk mengucapkan dialog dengan tepat, sedangkan rehearsal adalah tahapan dimana talent ditutut untuk menguasai penjiwaan karakter yang diperankannya dalam film di depan kamera.
g. Menentukan lokasi
Tahapan ini merupakan tahap dimana kru mencari lokasi yang paling tepat untuk pengambilan gambar berdasarkan pertimbangan tertentu, seperti misalnya lokasi yang terjangkau, keamanan cukup, ketersediaan sumber tenaga listrik, perijinan dan lain sebagainya.
h. Penyiapan perangkat produksi
Persiapan alat-alat yang nantinya akan digunakan untuk proses produksi film beserta pengecekan kualitas dan kapasitas pemakaiannya untuk meminimalisir hambatan teknis di lapangan.
i. Briefing produksi
Penjelasan oleh sutradara kepada seluruh kru mengenai cara kerja masing-masing, wewenang dan batas kerjanya agar pada saat pelaksanaannya nanti tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan.
2. PRODUKSI
Setelah segala persiapan untuk pengambilan gambar film dilakukan, maka selanjutnya adalah tahapan produksi.
a. Shooting
Pada tahap ini dilaksanakan pengambilan gambar adegan film melalui kamera yang lebih dikenal dalam dunia perfilman dengan shooting. Pelaksanaan shooting sendiri hanya sebagian kecil tahapan dalam keseluruhan proses produksi. Tahap yang membutuhkan waktu banyak adalah tahap pra produksi dimana pada tahap ini semua batasan-batasan pengambilan gambar telah diatur, sehingga pada tahap shooting nanti tidak perlu memikirkan lagi tentang pengambilan gambar dan sebagainya. Pada tahap shooting ini kru hanya perlu melakukan apa yang sudah direncanakan secara matang pada tahapan pra produksi.
b. Evaluasi kerja produksi
Evaluasi yang dilakukan setelah melakukan shooting bertujuan agar kesalahan-kesalahan yang terjadi sebelumnya bisa dihindari.
c. Editing
Tahap ini merupakan tahap penyelesaian pembuatan film. Tahap ini adalah proses pengumpulan, menata dan membuat materi-materi (shot-shot hasil shooting, gambar, suara atau animasi) menjadi satu kesatuan yang bisa menceritakan sebuah cerita melalui gambar dan suara, yang lebih dikenal dalam perfilman dengan tahap editing ( Goodman dan McGrath, 2003:5).
d. Penayangan film perdana
Tahap terakhir produksi sebelum diedarkan dan dapat ditonton oleh masyarakat adalah tahap penayangan film perdana atau launching.
3. PASCA PRODUKSI
Pada tahapan ini, sebuah karya film yang telah selesai akan dipasarkan dengan penuh strategi untuk mencapai hasil yang ditargetkan kepada audiens. Pemasaran setiap produk tentu akan berbeda cara dan target yang akan dicapai. Terlebih lagi memasarkan sebuah karya film yang masih termasuk kebutuhan tersier di masyarakat. Beberapa unsur penting yang bisa diperhatikan adalah promosi, melihat peluang pasar dan segmen, timing (waktu) penayangan, ketertarikan penonton, dan keseimbangan budget (dana) yang disediakan.
Promosi sangat penting untuk kesuksesan sebuah film, karena dengan ini orang akan lebih mengenal dan bisa tertarik untuk menyaksikan sebuah film. Promosi ini bisa berwujud macam-macam, misalnya iklan, meringkas film dalam bentuk teaser (rangkuman film), merchandise (stiker, kaos, poster, soundtrack/ilustrasi lagu pada film, dan lain sebagainya). Segmen pasar untuk sebuah film juga sangat penting untuk diperhatikan, dan hal ini juga berhubungan dengan kepada siapa promosi itu ditujukan, dimana tempat-tempat yang mudah menjangkau konsumen, serta waktu apa yang tepat untuk penayangan perdananya di masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar